Tuesday, November 17, 2015

Was-was Bisikan Syaitan

 Was-was Bisikan Syaitan

    15 Jun 2007
    Ust Dr Abdullah Yasin

    (1) عن أبى هريرة رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
    إِذَا وَجَدَ أحَدُكُمْ فِى بَطْنِهِ شَيْئًا فَأشْكَلَ عَلَيْهِ: أخَرَجَ مِنْهُ شَيْئٌ أمْ لاَ؟ فَلاَ يَخْرُجُ مِنَ
    الْمَسْجِدِ حتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْيَجِدَ رِيْحًا (رواه مسلم)

    (2) عن عبدالله بن عمرو: أن رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مرَّ بِسَعْدٍ وهو
    يَتَوَضَّأَ فَقَالَ: لاَ تُسْرِفْ، يَا رَسُوْلُ الله أوْ فِى المَاءِ إِسْرَاف؟ قال نَعَمْ، وَاِنْ كُنْتَ
    عَلَى نَهْرٍجَارٍ

    (3) عن أبى بن كعب ان النبى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ لِلْوُضُوْءِ شَيْطَانًا
    يُقَالَ لَهُ: الوَلْهَانُ فَاتَّقُوْا وَسْوَاسَ الْمَاءِ (رواه الترمذى)


    Terjemahan:

    1.      Daripada Abi Hurairah (ra) katanya, telah bersabda Rasulullah
    (sallallahu alaihi wasalam): “Jika salah seorang dari kamu mendapati
    sesuatu di dalam perutnya (terasa seperti kentut) lalu ia ragu, apakah
    keluar atau tidak? Maka janganlah dia keluar dari masjid sehingga dia
    mendengar suaranya ataupun mencium baunya”.
    [HR Muslim]


    2.      Dari Abdullah Bin ‘Amr (ra) bahwasa sesungguhnya Rasulullah
    (sallallahu alaihi wasalam) melalui Sa’ad yang sedang wudhu’, lalu
    beliau bersabda: “Jangan berlebih-lebihan” . Sa’ad bertanya: Ya
    Rasulullah, apakah pada air juga ada berlebih-lebihan (israaf)? Jawab
    Nabi (sallallahu alaihi wasalam): Betul (ada), walaupun kamu sedang
    berada di sungai yang sedang mengalir.
    [HR Imam Ahmad]


    3.      Dari Ubay Bin Ka’ab (ra) bahwa Rasulullah (sallallahu alaihi
    wasalam) bersabda: Sesungguhnya bagi wudhu’ ada syaitan yang dipanggil
    Walhaan oleh sebab itu takutlah kamu daripada was was air.
    [HR Tarmidzi]




    Mukaddimah:

    Syaitan adalah musuh umat manusia untuk selama-lamanya. Berbagai usaha
    dijalankannya untuk memesongkan manusia dari jalan yang lurus. Malahan
    tiada satupun perintah Allah SWT kecuali dia pasti berusaha untuk
    menyelewengkannya, samada agar manusia taqshir (tidak melaksanakannya)
    ataupun ghuluw (melaksanakannya secara berlebih-lebihan) . Jadi manusia
    yang ghuluw dalam beragama sangat mudah diserang oleh waswas. Dan
    ketahuilah bahwa waswas itu datangnya daripada syaitan.


    Makna Waswas:

    Imam Ibnul Qayyim berkata: WASWAS ialah sesuatu yang halus masuk ke
    dalam diri kita samada tanpa suara ataupun melalui suara lembut yang
    tidak boleh didengar kecuali oleh orang yang dimasukinya. (tafsir
    Al-Qayyim, hal. 600)

    Penjelasan:

    Di antara cara syaitan memesongkan manusia dari jalan yang lurus ialah
    dengan memasukkan waswas ke dalam diri orang tersebut seperti dalam
    urusan bersuci (thaharah), solat dan lain-lain ibadah sehingga mereka
    terkeluar dari cara yang telah digariskan oleh Rasulullah (sallallahu
    alaihi wasalam).

    Malahan lebih daripada itu, mereka mendakwa kononnya apa yang telah
    ditetapkan dalam sunnah Rasul (sallallahu alaihi wasalam) belum
    sempurna dan masih perlu kepada beberapa penambahan. Akhirnya
    berkumpullah pada manusia jenis ini antara: Sangkaan yang buruk,
    keletihan dan kehilangan atau pengurangan ganjaran pahala.

    Tidak diragukan lagi bahwa SYAITAN lah yang menjadi pendorong utama
    WASWAS. Orang yang waswas sebenarnya telah patuh dan ta’at kepada
    syaitan karena mereka menyahut seruannya dan mengikuti perintahnya. Dan
    sebaliknya tanpa disedari berarti mereka telah benci kepada sunnah
    Rasul (sallallahu alaihi wasalam).

    Sungguh banyak hadis sahih yang menjelaskan cara wudhu dan mandi Rasul
    (sallallahu alaihi wasalam). Baginda pernah mandi bersama Aisyah (ra)
    dengan kadar air yang sangat sedikit. Dan Baginda juga pernah berwudhu’
    dengan memasukkan tangannya ke dalam bekas untuk madhmadhah
    (berkumur-kumur) dan istinsyaaq (memasukkan dan mengeluarkan air dari
    hidung). Baginda menyapu telinganya ketika wudhu’ dengan bekas air
    menyapu kepalanya.

    Kalaulah ada di antara kita yang melakukan seperti yang dilakukan oleh
    Rasul di atas niscaya orang yang waswas akan menghukumkan wudhu’ dan
    mandi kita tidak sah. Mereka gunakan bermacam alasan untuk menguatkan
    pandangan mereka, kononnya di zaman Rasul air sedikit, itu khas untuk
    Rasul, air itu menjadi musta’mal dan lain-lain lagi.

    Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) melarang kita TASYDID dalam
    urusan agama. Tasydid maknanya menyusah-nyusahkan diri. Tasydid dalam
    urusan agama ada dua jenis, iaitu:

    1.         Tasydid Bisy Syara’ (menyusahkan diri dengan menetapkan
    sesuatu) seperti bernazar dengan sesuatu yang berat.

    2.         Tasydid Bil Qadar (menyusahkan diri dengan kadar atau
    ukuran) seperti yang dilakukan oleh orang yang waswas.


    Orang yang waswas telah menyiksa diri mereka sendiri. Kadang-kadang
    dengan basah kuyup bila berwudhu’, terkadang dengan menggunakan air
    yang berlebih-lebihan, terkadang dengan gosokan yang kuat, terkadang
    dengan memasukkan air ke dalam mata sehingga memudaratkan mata,
    terkadang memasukkan telunjuknya ke lobang duburnya ketika mandi junub
    dan lain-lain.

    Abu Al-Faraj Bin Al-Jauzi mengisahkan dari Abi Al-Wafa’ Bin ‘Uqail:
    Bahwa seorang lelaki berkata kepadanya: Aku telah menyelam dalam air
    beberapa kali, tetapi aku ragu: Adakah sah mandi mandi saya atau tidak?
    Bagaimana pendapat tuan syekh dalam perkara ini? Lalu syekh menjawab:
    Beredarlah kamu, sesungguhnya engkau tidak wajib salat. Lelaki tersebut
    bertanya: Mengapa demikian? Jawab syekh: Karena Nabi (sallallahu alaihi
    wasalam) telah bersabda:


    “Tidak diberi dosa tiga golongan manusia: Orang gila sehingga dia
    siuman, orang tidur sehingga dia bangun (sadar) dan kanak-kanak
    sehingga dia baligh”.


    Dan orang yang menyelam di dalam air beberapa kali, lalu dia masih
    ragu, adakah air sampai ke tubuhnya atau tidak, maka dia adalah orang
    gila.

    Contoh Lain Waswas Dalam Ibadah:

    1.         Waswas berniat ketika takbiratul ihram.

    Niat adalah maksud dan azam untuk melakukan suatu pekerjaan. Para
    fuqahaa (ahli fekah) telah sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam
    hati dan tidak ada kaitannya dengan lisan. Oleh itu tidak ada
    keterangan dari Nabi (sallallahu alaihi wasalam) dan para sahabat
    berbuat demikian. Melafazkan niat pada permulaan bersuci dan solat
    adalah rekaan baru yang telah banyak menyiksa manusia dan menjerumuskan
    mereka ke dalam kancah waswas syaitan. Dan karena terlalu
    memperturutkan waswas memasang niat dalam takbir akhirnya selain
    menyiksa dirinya, mengganggu kekhusyu’an orang lain, juga membuat ia
    luput dari ganjaran yang banyak.


    2.         Waswas ketika mandi junub dan wudhu

    Selain menggunakan air terlalu banyak yang boleh membawa pada hukum
    tabzir (membazir), melebihi bilangan tiga kali ketika membasuh atau
    menyapu anggota wudhu, berwudhu’ berulang kali sehingga basah kuyup.


    3.         Waswas ketika mengeluarkan makhraj huruf

    Waswas jenis yang boleh membatalkan solat seperti: Perkataannya pada
    Attahyaat: At-at-at, Attahy Attahy; pada Salam: As-As-As; pada takbir:
    Ak-k-k-k-k-bar. Orang yang terlalu memperturutkan waswas jenis ini
    kadang-kadang sampai mengeluarkan kahak ketika menyebut huruf ‘kha’ (خ)
    dan menyemburkan air ludahnya ketika menyebut ‘dhad’ (ض). Begitu juga
    orang yang waswas suka membaca dengan suara kuat (jahar) walaupun dalam
    solat yang sepatutnya perlahan (sirr) sehingga mengganggu kekhusyu’an
    orang lain. Padahal Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) tidak
    berbuat demikian. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa baginda dikesan
    sedang membaca hanya dari gerak janggotnya.


    4.         Waswas dengan najis

    Semua permukaan bumi dan tanah pada asalnya adalah bersih sehingga ada
    bukti padanya ada najis. Tetapi orang yang waswas tidak akan solat
    kecuali ada sajadah atau tikar sebagai lapik (alas). Mereka tidak
    tayamum kecuali dengan debu tanah yang sudah digonseng atau dipanaskan.
    Dan karena terlalu memperturutkan waswas ini akhirnya ia lebih rela
    meninggalkan solat daripada melakukannya dalam keadaan waswas. Dia
    lebih suka mentaati syaitan daripada mentaati Allah dan RasulNya.
    Termasuk juga dalam bab ini najis yang sedikit.


    Cara Mengobati Waswas:

    Cara yang paling berkesan untuk mengobati penyakit waswas ialah:
    Ittiba’ur Rasul (mengikut cara Rasul).

    Setiap muslim dan muslimat mesti yakin sungguh-sungguh tanpa ragu
    sedikit pun bahwa segala ajaran Nabi Muhammad (sallallahu alaihi
    wasalam) adalah paling sempurna. Tidak ada cara dan ajaran manapun yang
    boleh mengatasi kesempurnaan ajaran baginda. Jika muslim muslimat masih
    meragukan hakikat ini maka syahadatnya rosak.Dan jika kita selidiki
    amalan Rasul (sallallahu alaihi wasalam) ternyata sangat mudah dan
    tidak menyusahkan. Bagi kita Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam)
    sajalah orang yang paling layak untuk kita contohi untuk menundukkan
    musuh utama umat manusia iaitu syaitan, bukan dari sumber lain

No comments:

Post a Comment